Pendekatan Penilaian pada Kurikulum 2013
Tahapan Pembelajaran dengan Quantum Theaching
Quantum Teaching merupakan proses pembelajaran dengan menyediakan latar belakang dan strategi untuk meningkatkan proses belajar mengajar menjadi menyenangkan.
Pembelajaran Quantum Teaching mencakup petunjuk untuk menciptakan lingkungan belajar yang efektif, merancang pengajaran, menyampaikan isi dan memudahkan proses belajar.Quantum Teaching merupakan suatu proses pembelajaran dengan menyediakan latar belakang dan strategi untuk meningkatkan proses belajar mengajar dan membuat proses tersebut menjadi lebih menyenangkan.
Cara ini memberikan sebuah gaya mengajar yang memberdayakan siswa untuk berprestasi lebih dari yang dianggap mungkin. Juga membantu guru memperluas keterampilan siswa dan motivasi siswa, sehingga guru akan memperoleh kepuasan yang lebih besar dari pekerjaannya.
Bagaimana penerapan model pembelajaran Quantum teaching di kelas ?
Berikut ini akan diuraikan urutan langkah-langkah pembelajaran Quantum Teaching yang dapat dikembangkan dalam kelas pada saat KBM.
Guru membuat strategi dengan melakukan aplikasi ataupun cerita tentang pelajaran yang bersangkutan.
Siswa dapat memahami informasi ataupun kegiatan serta memanfaatkan fasilitas yang ada sesuai dengan kebutuhan siswa.
Guru mengajarkan konsep, keterampilan berpikir, dan strategi belajar dengan menggunakan gambar, warna, alat bantu, kertas atau alat yang lainnya.
Siswa dapat mengetahui informasi, fakta, rumus, pemikiran, tempat dan sebagainya berdasarkan pengalaman agar pengetahuan tersebut berarti.
Siswa dapat memperagakan atau mengaplikasikan tingkat kecakapannya dengan pelajaran.
Siswa dapat dengan mudah memahami dan mengetahui pelajaran tersebut.
Guru memberikan kesempatan bagi siswa untuk mengajarkan pengetahuan kepada siswa yang lain.
Perayaan tersebut akan mengajarkan siswa mengenai motivasi belajar, kesuksesan, langkah menuju kemenangan.
Pujian yang didapatkan akan mendorong siswa agar tetap dalam keadaan bersemangat dalam proses belajar mengajar.
Bagaimana Melakukan Penilaian dalam Pembelajaran
Melakukan Penilaian merupakan salah satu tugas pokok Guru, sehingga bagi seorang Guru memahami tentang penilaian merupakan salah satu keharusan.
Apa itu Capaian Pembelajaran (CP) dalam Kurikulum Merdeka ?
CP atau Capaian pembelajaran adalah kompetensi minimum yang harus dicapai peserta didik untuk setiap mata pelajaran. CP dirancang dengan mengacu pada Standar Kompetensi Lulusan (SKL) dan Standar Isi, sebagaimana Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar (KI-KD) dalam Kurikulum 2013 dirancang.
Capaian Pembelajaran merupakan pembaharuan dari KI dan KD, yang dirancang untuk terus menguatkan pembelajaran yang fokus pada pengembangan kompetensi. Kurikulum 2013 bahkan kurikulum nasional yang terdahulu sudah ditujukan untuk berbasis kompetensi, sehingga kurikulum ini meneruskan upaya tersebut. Dalam CP, strategi yang semakin dikuatkan untuk mencapai tujuan tersebut adalah dengan mengurangi cakupan materi dan perubahan tata cara penyusunan capaian yang menekankan pada fleksibilitas dalam pembelajaran
Konsekuensi dari pembelajaran yang berorientasi pada kompetensi adalah perlunya pengurangan materi pelajaran atau pokok bahasan. Penelitian yang dilakukan Pritchett dan Beatty (2015) menunjukkan bahwa di beberapa negara berkembang termasuk Indonesia, materi pelajaran yang begitu padat membuat guru terus bergerak cepat menyelesaikan bab demi bab, konsep demi konsep, tanpa memperhitungkan kemampuan siswa untuk memahami pelajaran tersebut. Menurut Pritchett dan Beatty, hal ini bukan karena guru tidak menghiraukan kemampuan anak dalam belajar. Mengajar dengan terburu-buru dan tidak menggunakan pendekatan pembelajaran yang berpusat pada siswa merupakan keputusan logis karena kebijakan kurikulum yang berlaku menilai kinerja mereka melalui ketuntasan mengajarkan materi ajar yang begitu banyak.
Ketika pelajaran disampaikan dengan terburu-buru, peserta didik tidak memiliki cukup waktu untuk memahami konsep secara mendalam, yang sebenarnya sangat penting untuk menguatkan fondasi kompetensi mereka. Pritchett dan Beatty (2015) menemukan bahwa peserta didik yang mengalami kesulitan memahami konsep di kelas-kelas awal di sekolah dasar juga mengalami kesulitan di jenjang-jenjang berikutnya. Artinya, padatnya materi pelajaran membawa dampak yang panjang dan siswa kehilangan kesempatan untuk mengembangkan kemampuan berpikir yang lebih tinggi. Beberapa contoh konkrit penyederhanaan dan penyesuaian kompetensi dan materi ajar dalam CP adalah pengurangan beberapa materi dalam CP Biologi SMA (Fase F) karena terlalu banyak dan terlalu terperinci untuk jenjang tersebut,dan penambahan materi dalam CP Kimia SMA (Fase F) tentang Nanoteknologi dan Radioaktivitas karena keduanya semakin banyak ditemui saat ini.
Pritchett dan Beatty (2015) serta laporan yang ditulis OECD (2018) menekankan bahwa penyederhanaan kurikulum melalui pengurangan konten atau materi pelajaran bukan berarti standar capaian yang ditetapkan menjadi lebih rendah. Sebaliknya, kurikulum berfokus pada materi pelajaran yang esensial. Materi esensial ini dipelajari dengan lebih leluasa, tidak terburu-buru sehingga siswa dapat belajar secara mendalam, mengeksplorasi suatu konsep, melihatnya dari perspektif yang berbeda, melihat keterkaitan antara suatu konsep dengan konsep yang lain, mengaplikasikan konsep yang baru dipelajarinya di situasi yang berbeda dan situasi nyata, sekaligus merefleksikan pemahamannya tentang konsep tersebut. Pengalaman belajar yang demikian, menurut Wiggins dan McTighe (2005), akan memperkuat pemahaman siswa akan suatu konsep secara lebih mendalam dan berkelanjutan.
Pandangan Wiggins dan McTighe (2005) tersebut dilandasi oleh teori belajar konstruktivisme. Di berbagai negara, dan tidak terbatas pada negara maju saja, pendekatan pembelajaran berbasis teori konstruktivisme ini semakin dikuatkan. Di India, misalnya, pembelajaran berbasis konstruktivisme bahkan menjadi muatan wajib bagi calon guru dalam kurikulum LPTK mereka (UNESCO MGIEP, 2017). Rogan (2003) juga melaporkan bahwa Afrika Selatan, serta beberapa negara di benua Afrika lainnya, juga secara eksplisit menyatakan dalam dokumen kurikulum mereka bahwa teori konstruktivisme menjadi rujukan utama dalam kebijakan kurikulum dan pembelajaran.
sumber :
Kajian akademik Kurikulum untuk Pemulihan Pembelajaran, Pusat Kurikulum dan Pembelajaran Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi,edisi 1 Februari 2022
Tehnik Pembelajaran The Learning Cell
Dalam dunia belajar mengajar ada banyak tehnik pembelajaran yang dapat digunakan oleh para guru untuk mengemas pembelajaran sehingga menjadi kegiatan pembelajaran yang bermakna, mendidik, mencerahkan dan mencerdaskan. Salah satu tehnik yang dapat dipilih adalah The Learning Cell.
Apa itu The Learning
Cell ?
The learning cell ini dikembangkan oleh Goldschmid
dari Swiss Federal Institute of Technology di Lausanne.
The learning
cell merupakan salah satu teknik pembelajaran yang membantu siswa
belajar dengan lebih efektif.
The learning
cell atau siswa berpasangan adalah suatu bentuk belajar kooperatif dalam
bentuk berpasangan di mana siswa bertanya dan menjawab pertanyaan secara
bergantian berdasar pada materi bacaan yang sama.
The learning
cell adalah salah satu cara dari pembelajaran kelompok, khususnya kelompok
kecil. Dalam pembelajaran ini siswa diatur dalam pasangan-pasangan. Salah
seorang di antaranya berperan sebagai tutor, fasilitator/pelatih ataupun
konsultan bagi seorang yang lain. Orang yang kedua ini berperan sebagai siswa
peserta latihan ataupun seorang yang memerlukan bantuan. Setelah selesai, maka
giliran peserta kedua untuk berperan sebagai tutor, fasilitator atupun pelatih
dan peserta pertama menjadi siswa ataupun peserta latihan dan seterusnya.
Bagaimana
Langkah-langkah Teknik Pembelajaran The Learning Cell ?
Teknik pembelajaran the
learning cell terdiri dari beberapa tahapan berikut :
1. Tahap persiapan:
- Guru menjelaskan secara singkat
teknik pembelajaran the learning cell.
- Guru membagi siswa secara
berpasangan.
- Guru menentukan siswa yang
berperan sebagai tutor
- Siswa yang berperan sebagai
tutor mempelajari, mencari dan menambah wawasan tentang materi pada sumber
lain, seperti internet, buku-buku yang relevan dan lain-lain.
2. Tahap kegiatan:
- Siswa langsung membagi diri
secara berpasang-pasangan yang telah ditentukan sebelumnya.
- Guru menjelaskan materi secara
singkat.
- Siswa tutor menjelaskan materi
yang telah dia pelajari sebelumnya dari berbagai sumber.
- Guru memantau, mengawasi dan
memberikan bimbingan pada saat pembelajaran berlangsung.
- Siswa yang lainnya menerima
bimbingan, menanyakan hal-hal yang kurang dipahami kepada tutor.
- Jika siswa dan tutor mengalami
kesulitan baik secara materi maupun non materi, maka guru memberikan
arahan dan bimbingan.
3. Tahap setelah
kegiatan:
- Jika masing-masing pasangan
telah menyelesaikan pembahasan materi secara tuntas, guru memberikan
intisari materi dan menyimpulkan materi tersebut.
- Guru menunjuk kembali tutor,
terjadi pergantian tutor (siswa yang pada awalnya sebagai tutor menjadi
siswa yang dibimbing sedangkan siswa yang awalnya dibimbing berganti
posisi menjadi tutor).
- Guru kembali memberikan materi
lanjutan kepada siswa.
- Siswa yang menjadi tutor
kembali melaksanakan tugasnya seperti pada bagian di atas.
- Proses ini terus berlangsung
sampai materi pelajaran selesai
Demikian uraian mengenai
tehnik pembelajaran The Learning Cell beserta langkah-langkah penerapannya
dalam kegiatan pembelajarn.
Langkah-Langkah Pembelajaran Sinergetik
Pembelajaran sinergetik atau sinergetic teaching merupakan salah satu jenis pembelajaran aktif (active learning),yaitu pembelajaran yang mengajak siswa belajar secara aktif, baik untuk menemukan ide pokok dari materi pelajaran, memecahkan persoalan, atau mengaplikasikannya.
Menurut Hisyam Zaini, dkk (2004) adalah sebagai berikut.
kedua, Kirimkan satu kelompok ke ruangan lain untuk membaca tentang topik yang diajarkan.
ketiga, Pastikan materi bacaan itu terformat dengan baik dan mudah dibaca.
keempat, Selama masa ini, berikan sebuah pelajaran yang disampaikan dengan lisan, ceramah, tentang materi yang sama kepada separuh lainnya dari kelas itu.
keenam, Keduanya diminta untuk meggabungkan hasil belajar yang mereka peroleh dengan cara yang berbeda tersebut.
ketujuh, Mintalah beberapa orang untuk menyampaikan hasil belajar.
kedelapan, Mereka akan menjawab pertanyaan yang anda sampaikan.
kesembilan, Beri penjelasan untuk setiap jawaban siswa yang belum jelas.
Langkah-langkah Pembelajaran Berbasis Genre
Pendekatan Pembelajaran Berbasis Genre (Genre Based Approach) ini merupakan pendekatan pembelajaran yang membantu siswa lebih kompeten berbahasa, mampu berkomunikasi melalui penguasaan keterampilan berbahasa di antaranya dengan kegiatan menyimak, berbicara, membaca, dan menulis.
Berikut ini adalah uraian
Langkah-langkah kegiatan pembelajaran berbasis Genre/Teks (Roses
dan Martin, 2012)
Langkah pertama, Membangun Konteks.
Tahap ini merupakan langkah-langkah awal yang dilakukan guru bersama siswa
untuk mengarahkan pemikiran ke dalam pokok persoalan yang akan dibahas pada
setiap pelajaran.
Contoh pembelajaran pada tahap membangun konteks untuk mata pelajaran Bahasa
Inggris, yaitu guru menyiapkan contoh-contoh teks report terkait teknologi yang
akan dibahas, misalnya Electric Torch, Fan Ceiling, USB Flash Drive atau
yang lainnya. Contoh teks dapat berupa teks otentik, teks modifikasi, teks
adaptasi, teks buatan guru sendiri, atau teks yang diberikan oleh para ahli pendekatan genre-based yang
relevan.
Langkah kedua, Menelaah
Model/Dekonstruksi teks.
Tahap ini berisi tentang pembahasan teks yang diberikan sebagai model
pembelajaran. Pembahasan diarahkan pada semua aspek kebahasaan yang
membentuk teks itu secara keseluruhan. Pada tahap ini dikembangkan
kemampuan berpikir kritis siswa melalui kegiatan membahas serta menjawab pertanyaan-pertanyaan
yang jawabannya tidak tertera dalam teks, seperti siapa penulisnya, kepada
siapa pesan dalam teks ditujukan, di mana teks tersebut dapat ditemukan, dalam
konteks apa teks itu dipakai, apakah setiap teks atau setiap pernyataan yang
ada dalam teks relevan dengan kehidupan siswa, apakah setiap pernyataan yang ada
dalam teks akan diterima oleh semua pembaca, apakah yang dikatakan dalam teks
relevan dengan pengalaman siswa atau relevan dengan teks yang pernah dibaca
sebelumnya oleh siswa terkait topik yang sama.
Langkah ketiga, Latihan
Terbimbing (Joint construction)
Pada tahapan ini, siswa berlatih menggunakan semua hal yang telah
dipahaminya pada tahap sebelumnya. Siswa melewati tahap brainstorming,
drafting, revising, editing, proofreading, dan publishing.
Langkah keempat, Unjuk Kerja Mandiri (Independent construction)
Pada tahapan ini, siswa diberi kesempatan untuk menulis secara mandiri,
dengan bimbingan guru yang minimal, hanya kalau diperlukan. Setelah menulis teks
secara mandiri, siswa juga dapat melakukan refleksi terkait apa yang
telah ditulis atau yang dilakukan, atau apa yang telah dipelajari
selama pembelajaran, dan saat membandingkan teks yang mereka tulis dengan teks yang
ditulis oleh temannya. Siswa juga dapat menceritakan kembali apa yang telah
ditulisnya di depan kelas.
Itulah tadi bagaimana Langkah-langkah
Pembelajaran Berbasis Genre. Semoga bermanfaat.
Sumber : Model-model Pembelajaran,Direktorat
Pembinaan Sekolah Menengah Atas,Direktorat Jendral Pendidikan Dasar dan Menengah,Kementrian
Pendidikan dan Kebudayaan,Tahun 2017
Fungsi Media dalam Pembelajaran
Media adalah bagian yang tidak terpisahkan dari proses belajar mengajar demi tercapainya tujuan pendidikan pada umumnya dan tujuan pembelajaran pada khususnya.
Terdapat dua
fungsi utama media pembelajaran, pertama media adalah sebagai
alat bantu
pembelajaran, dan fungsi kedua adalah sebagai media sumber
belajar.
Media
pembelajaran yang tepat dapat membawa keberhasilan belajar dan mengajar di kelas, menurut Levie dan Lentz (1982) dalam Azhar Arsyad, itu
karena media pembelajaran khususnya
media visual memiliki empat fungsi, yaitu
:
(1)
Fungsi atensi
(2)
Fungsi afektif
(3)
Fungsi kognitif
(4)
Fungsi compensations
(1) Pengajaran lebih menarik perhatian siswa, sehingga menumbuhkan motivasi belajar
(3) Metode pengajaran akan bervariasi.
(4) Siswa dapat lebih banyak melakukan aktivitas belajar, seperti mengamati, melakukan,mendemonstrasikan dan lain-lain.
(5) Sesuai dengan taraf berpikir siswa, dimulai dari taraf berfikir konkret menuju abstrak, dimulai dari yang sederhana menuju berfikir yang kompleks. Dengan adanya media pengajaran hal-hal yang abstrak dapat dikonkretkan, dan hal-hal yang kompleks dapat disederhanakan.
Pengertian Media Pembelajaran Secara umum
Belajar adalah suatu proses yang kompleks yang terjadi pada diri setiap individu sepanjang hidupnya. Proses belajar itu terjadi karena adanya interaksi antara seseorang dengan lingkungannya. Para guru dituntut agar mampu menggunakan alat-alat yang dapat disediakan oleh sekolah, dan tidak tertutup kemungkinan bahwa alat-alat tersebut sesuai dengan perkembangan dan tuntutan zaman.
Secara lebih khusus, pengertian media dalam proses belajar mengajar cenderung diartikan sebagai alat-alat grafis, photografis, atau elektronis untuk menangkap, memproses, dan menyusun kembali informasi visual verbal.
Berdasarkan keterangan diatas maka guru harus memiliki pengetahuan dan pemahaman yang cukup tentang media pembelajaran (Hamalik, 1994:6) dalam Azhar Arsyad :
1) Media sebagai alat komunikasi guna lebih mengefektifkan proses belajar mengajar; 2) Fungsi media dalam rangka mencapai tujuan pendidikan; 3) Seluk beluk proses belajar; 4) Hubungan antara metode mengajar dan media pendidikan; 5) Nilai atau manfaat media pendidikan dalam pengajaran; 6) Pemilihan dan penggunaan media pendidikan; 7) Berbagai jenis alat dan teknik media pendidikan; 8) Media pendidikan dalam setiap mata pelajaran; 9) Usaha inovasi dalam media pendidikan
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa media adalah bagian yang tidak terpisahkan dari proses belajar mengajar demi tercapainya tujuan pendidikan pada umumnya dan tujuan pembelajaran pada khususnya.
![]() |
| smart phone ( Ha Pe ) sebagai salah satu media pembelajaran kekinian , dimiliki dan dibawa oleh hampir sebagian besar siswa dari SD hingga SMA |
Contoh Model Pemecahan Masalah dalam Pembelajaran Biologi di SMA
Kemampuan pemecahan masalah dapat didefinisikan sebagai kemampuan melakukan proses mengenal dan menghilangkan kesenjangan antara kenyataan dan keadaan idealnya dari suatu fenomena atau hal-hal yang terkait dengan materi pelajaran biologi (diadaptasi dari Peng, 2004 dan Pramana, 2006). Dalam penelitian ini, pemecahan masalah dimulai dari mengenal masalah, menemukan alternatif solusi, memilih alternatif solusi, dan melakukan pemecahan masalah, serta melakukan refleksi keberhasilan pemecahan masalah. Kualitas hasil pemecahan masalah diukur menggunakan tes khusus, ialah tes pemecahan masalah.
Masalah yang dipecahkan dalam kegiatan pemecahan masalah, adalah permasalahan atau persoalan otentik. Masalah otentik banyak didefinisikan sebagai illstructured problems, ialah persoalan yang tidak hanya mempunyai satu macam solusi, persoalan yang melibatkan berbagai disiplin ilmu/kajian, dan juga yang berupa persoalan, yang memancing pemikiran untuk menemukan alternatif-alternatif rumusan dan juga solusinya. Masalah otentik juga dimaknai oleh permasalahan atau persoalan yang familiar, yang dikenal siswa, yang terjadi di sekitar sekolah atau tempat tinggal siswa, dan atau masalah yang sedang mengemuka.
Dalam matapelajaran biologi di SMA, masalah otentik dapat dikaitkan dengan materi-materi yang melibatkan banyak disiplin ilmu dalam kajiannya, misalnya ekosistem, lingkungan hidup, dan bioteknologi. Materi-materi ini banyak terkait dengan kehidupan manusia sehari-hari, atau mempunyai nilai sosial yang tinggi, sehingga sangat familiar dan kontekstual bagi seluruh anggota keluarga. Banyak permasalahan problematik dapat diidentifikasi dan diangkat dari materi-materi pelajaran ini.
Selain langsung dari lingkungan sekitar siswa atau sekolah, masalah otentik banyak tersaji dalam majalah, surat kabar lokal, atau media masa lainnya. Masalah kontekstual ini juga dapat dirunut di internet ataupun jurnal-jurnal tertentu.
Penyelidikan atau investigasi dalam pemecahan masalah merupakan langkah paling tepat, yang mencakup kegiatan-kegiatan pengamatan objek biologi (first hand information). Namun. Dalam kondisi tertentu, penelusuran jawaban atau informasi dari referensi baik buku, majalah ilmiah, jurnal, maupun internet (second hand information), juga dapat dilakukan untuk memperoleh jawaban permasalahan.
contoh LKS (dengan kegiatan pemecahan masalah), untuk Kelas X, SMA, dalam Pembelajaran Berbasis Masalah (Paidi, 2008). Dalam LKS, disajikan sumber wacana, yang dikemas sebagai Isu/Wacana, kemudian daftar perintah atau pertanyaan sebagai guidance kegiatan siswa memecahakan masalah, sampai dengan refleksi diri setelah melakukan kegiatan pemecahan masalah. Untuk LKS ini, juga disiapkan contoh/model penilaian kemampuan masing-masing siswa melakukan pemecahan masalah.
Konteks Wacana
Baca dengan cermat cuplikan berita berikut !
Perintah/Pertanyaan Pengarah
1. Dari wacana tersebut, temukan pokok-pokok permasalahan yang terkandung di dalamnya!
2. Dari tiap pokok permasalahan yang Anda temukan itu, rumuskan menjadi pertanyaanpertanyaan atau rumusan-rumusan masalah yang memudahkan Anda untuk menemukan jawabannya!
3. Sebelum menemukan jawaban pertanyaan-pertanyaan tersebut, temukan dugaan, atau kemungkinan jawaban-jawaban atas permasalahan tersebut. Rumuskan jawabanjawaban sementara Anda ini menjadi langkah-langkah solusi, yang kemungkinannya merupakan jawaban permasalahan yang telah Anda rumuskan tersebut!
4. Dari sekian kemungkinan jawaban itu, temukan satu jawaban yang kemungkinan paling tepat untuk pokok-pokok permasalahan tersebut!
5. Menggunakan buku teks atau buku sumber yang Anda miliki, temukan jawabanjawaban pertanyaan-pertanyaan yang telah Anda rumuskan pada nomer 2 tersebut. Ingat, gunakan waktu yang disediakan!
6. Tuliskan jawaban-jawaban Anda di tempat yang disediakan!
Hakikat Pemecahan Masalah dalam Pembelajaran
Perlu disadari bahwa di dalam hidup selalu diliputi berbagai masalah baik masalah yang datang dari diri kita maupun dari luar kita. Memecahkan masalah (problem solving) yang ada, merupakan keputusan yang tepat untuk dapat hidup dengan lebih bermakna. Manakala sekolah dipandang sebagai laboratorium masyarakat, maka menjadi urgen siswa dilatih untuk mengenali permasalahan sampai dengan melakukan pemecahan atas permasalahanpermasalahan, terkait dengan tingkat perkembangan mental, jenjang pendidikan, serta matapelajaran atau bidang ilmu yang dipelajarinya.
Secara umum, pemecahan masalah didefinisikan sebagai suatu proses penghilangan perbedaan atau ketidaksesuaian yang terjadi antara hasil yang diperoleh dan hasil yang diinginkan (Pramana, 2006). Salah satu bagian dari proses pemecahan masalah adalah pengambilan keputusan (decision making), yang didefinisikan sebagai memilih solusi terbaik dari sejumlah alternatif yang tersedia (Pramana, 2006). Pengambilan keputusan yang tidak tepat, akan mempengaruhi kualitas hasil dari pemecahan masalah yang dilakukan. Masalah itu sendiri didefinisikan sebagai keadaan yang tidak sesuai dengan harapan yang kita inginkan.
Memecahkan masalah juga merupakan bentuk berpikir. Kemampuan untuk melakukan pemecahan masalah bukan saja terkait dengan ketepatan solusi yang diperoleh, melainkan kemampuan yang ditunjukkan sejak mengenali masalah, menemukan alternatif-alternatif solusi, memilih salah satu alternatif sebagai solusi, serta mengevaluasi jawaban yang telah diperoleh. Kemampuan problem solving dianggap fungsi intelektual yang paling kompleks (Peng, 2004). Sementara menurut Barrows (1992) kemampuan problem solving termasuk keterampilan berpikir dan menalar (thinking and reasoning skill), yang di dalamnya juga tercakup kemampuan metakognitif dan berpikir kritis. Ada banyak langkah pendekatan dari seseorang dalam memecahkan masalah, bergantung tingkat kesulitan masalah, namun urutannya adalah langkah-langkah kreatif yang biasa dilakukan dalam problem solving.
Menurut Ommundsen (2001), pemecahan masalah yang efektif memerlukan langkah pendekatan yang benar-benar terurut. Keterampilan memecahkan masalah bukan seperti keterampilan pesulap mengeluarkan merpati dari telapak tangan yang semula terlihat kosong, sebuah gerakan-gerakan tipu, melainkan kemampuan yang benar-benar logis dan empiris, yang sering memerlukan sejumlah waktu. Ommundsen mengusulkan langkah-langkah spesial, yang secara heuristic (jembatan keledai-nya) dikenal dengan DENT, ialah: Define, Explore, Narrow, Test, yang detailnya adalah:
a. Define the Problem Carefully (menemukenali problem dengan cermat)
b. Explore Possible Solutions (menemukan sebanyak mungkin alternatif solusi)
c. Narrow Your Choices (memilih salah satu alternatif solusi)
d. Test Your Solution (menguji solusi melalui pengumpulan data empiris).
Langkah-langkah yang lebih rinci dikemukakan oleh Peng (2004), ialah:
a. Menjelaskan deskripsi masalah
b. Menganalisis penyebab
c. Mengenali dan menemukan alternatif solusi
d. Menilai setiap alternatif solusi
e. Memilih salah satu alternatif solusi
f. Mencoba memecahkan masalah menggunakan cara terpilih
g. Menilai benarkan masalah telah benar-benar terpecahkan
Sementara menurut Pranata (2006), langkah-langkah pemecahan masalah secara analitis, adalah:
a. Menganalisis atau medefinisikan masalah
b. Membuat atau menemukan alternatif pemecahan masalah.
c. Mengevaluasi alternatif-alternatif pemecahan masalah
d. Menerapkan solusi dan rencana tindak lanjut.
Dengan latihan mengidentifikasi masalah dan memecahkannya ini, siswa terlatih untuk dapat menemukan keterampilan-keterampilan metakognisi atau keterampilan berpikir tingkat tinggi (Eggen & Kauchak, 1996; DeGallow, 1999).
Apa itu Capaian Pembelajaran (CP) ?
Capaian pembelajaran (CP) adalah kompetensi minimum yang harus dicapai peserta didik untuk setiap mata pelajaran. CP dirancang dengan mengacu pada Standar Kompetensi Lulusan (SKL) dan Standar Isi, sebagaimana Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar (KI-KD) dalam Kurikulum 2013 dirancang. Capaian Pembelajaran merupakan pembaharuan dari KI dan KD, yang dirancang untuk terus menguatkan pembelajaran yang fokus pada pengembangan kompetensi. Kurikulum 2013 bahkan kurikulum nasional yang terdahulu sudah ditujukan untuk berbasis kompetensi, sehingga kurikulum ini meneruskan upaya tersebut. Dalam CP, strategi yang semakin dikuatkan untuk mencapai tujuan tersebut adalah dengan mengurangi cakupan materi dan perubahan tata cara penyusunan capaian yang menekankan pada fleksibilitas dalam pembelajaran.
Pengurangan konten. Konsekuensi dari pembelajaran yang berorientasi pada kompetensi adalah perlunya pengurangan materi pelajaran atau pokok bahasan. Penelitian yang dilakukan Pritchett dan Beatty (2015) menunjukkan bahwa di beberapa negara berkembang termasuk Indonesia, materi pelajaran yang begitu padat membuat guru terus bergerak cepat menyelesaikan bab demi bab, konsep demi konsep, tanpa memperhitungkan kemampuan siswa untuk memahami pelajaran tersebut. Menurut
Pritchett dan Beatty, hal ini bukan karena guru tidak menghiraukan kemampuan anak dalam belajar. Mengajar dengan terburu-buru dan tidak menggunakan pendekatan pembelajaran yang berpusat pada siswa merupakan keputusan logis karena kebijakan kurikulum yang berlaku menilai kinerja mereka melalui ketuntasan mengajarkan materi ajar yang begitu banyak.
Ketika pelajaran disampaikan dengan terburuburu, peserta didik tidak memiliki cukup waktu untuk memahami konsep secara mendalam, yang sebenarnya sangat penting untuk menguatkan fondasi kompetensi mereka. Pritchett dan Beatty (2015) menemukan bahwa peserta didik yang mengalami kesulitan memahami konsep di kelas-kelas awal di sekolah dasar juga mengalami kesulitan di jenjang-jenjang berikutnya. Artinya, padatnya materi pelajaran membawa dampak yang panjang dan siswa kehilangan kesempatan untuk mengembangkan kemampuan berpikir yang lebih tinggi. Beberapa contoh konkrit penyederhanaan dan penyesuaian kompetensi dan materi ajar dalam CP adalah pengurangan beberapa materi dalam CP Biologi SMA (Fase F) karena terlalu banyak dan terlalu terperinci untuk jenjang tersebut,dan penambahan materi dalam CP Kimia SMA (Fase F) tentang Nanoteknologi dan Radioaktivitas karena keduanya semakin banyak ditemui saat ini.
Pritchett dan Beatty (2015) serta laporan yang ditulis OECD (2018) menekankan bahwa penyederhanaan kurikulum melalui pengurangan konten atau materi pelajaran bukan berarti standar capaian yang ditetapkan menjadi lebih rendah. Sebaliknya, kurikulum berfokus pada materi pelajaran yang esensial. Materi esensial ini dipelajari dengan lebih leluasa, tidak terburu-buru sehingga siswa dapat belajar secara mendalam, mengeksplorasi suatu konsep, melihatnya dari perspektif yang berbeda, melihat keterkaitan antara suatu konsep dengan konsep yang lain, mengaplikasikan konsep yang baru dipelajarinya di situasi yang berbeda dan situasi nyata, sekaligus merefleksikan pemahamannya tentang konsep tersebut. Pengalaman belajar yang demikian, menurut Wiggins dan McTighe (2005), akan memperkuat pemahaman siswa akan suatu konsep secara lebih mendalam dan berkelanjutan.
Pandangan Wiggins dan McTighe (2005) tersebut dilandasi oleh teori belajar konstruktivisme. Di berbagai negara, dan tidak terbatas pada negara maju saja, pendekatan pembelajaran berbasis teori konstruktivisme ini semakin dikuatkan. Di India, misalnya, pembelajaran berbasis konstruktivisme bahkan menjadi muatan wajib bagi calon guru .
Apa yang dimaksud dengan dimensi profil pelajar Pancasila?
mulia,
(5) bernalar kritis,
Bagaimana Kurikulum Merdeka bisa terus diterapkan secara berkelanjutan?
Apa yang perlu orang tua siapkan ketika satuan pendidikan anak mereka menerapkan Kurikulum Merdeka?
Dukungan dari orang tua merupakan salah satu kunci keberhasilan penerapan Kurikulum Merdeka. Dengan demikian, secara konkret orang tua bisa menjadi teman dan pendamping belajar bagi anak.
Memahami kompetensi yang perlu dicapai anak pada fasenya. Orang tua dapat pula mempelajari buku-buku teks yang digunakan dalam Kurikulum Merdeka melalui buku.kemdikbud.go.id. Kemendikbudristek terus berupaya untuk menghadirkan dan menyediakan buku-buku yang lebih asik, tidak terlalu padat, dan lebih banyak ilustrasi menarik dengan tema yang lebih menyentuh dan relevan.Apa yang dimaksud dengan pembelajaran yang inklusif?
Salah satu semangat dalam Kurikulum Merdeka ialah penyelenggaran pembelajaran yang inklusif. Apa yang dimaksud dengan pembelajaran yang inklusif ?
Kurikulum merupakan instrumen penting yang berkontribusi untuk menciptakan pembelajaran yang inklusif. Inklusif tidak hanya tentang menerima peserta didik dengan kebutuhan khusus.
Tetapi, inklusif artinya satuan pendidikan mampu menyelenggarakan iklim pembelajaran yang menerima dan menghargai perbedaan, baik perbedaan sosial, budaya, agama, dan suku bangsa. Pembelajaran yang menerima bagaimanapun fisik, agama, dan identitas para peserta didiknya.
Dalam kurikulum, inklusi dapat tercermin melalui penerapan profil pelajar Pancasila, misalnya dari dimensi kebinekaan global dan akhlak kepada sesama serta dari pembelajaran berbasis projek (project based learning). Pembelajaran berbasis projek ini nantinya akan otomatis memfasilitasi tumbuhnya toleransi sehingga terwujudlah inklusi.
Apa kriteria sekolah yang boleh menerapkan Kurikulum Merdeka?
Selanjutnya, jika setelah mempelajari materi tersebut sekolah memutuskan untuk mencoba menerapkannya, mereka akan diminta untuk mengisi formulir pendaftaran dan sebuah survei singkat. Jadi, prosesnya adalah pendaftaran dan pendataan, bukan seleksi.
Dengan demikian, Kurikulum Merdeka dapat diterapkan di semua sekolah/madrasah, tidak terbatas di sekolah yang memiliki fasilitas yang bagus dan di daerah perkotaan.
Apakah yang dimaksud dengan Kurikulum Merdeka?
Kurikulum Merdeka adalah kurikulum dengan pembelajaran intrakurikuler yang beragam di mana konten akan lebih optimal agar peserta didik memiliki cukup waktu untuk mendalami konsep dan menguatkan kompetensi. Guru memiliki keleluasaan untuk memilih berbagai perangkat ajar sehingga pembelajaran dapat disesuaikan dengan kebutuhan belajar dan minat peserta didik.
Projek untuk menguatkan pencapaian profil pelajar Pancasila dikembangkan berdasarkan tema tertentu yang ditetapkan oleh pemerintah. Projek tersebut tidak diarahkan untuk mencapai target capaian pembelajaran tertentu, sehingga tidak terikat pada konten mata pelajaran.Langkah-langkah Pembelajaran Berbasis Genre
Pendekatan Pembelajaran Berbasis Genre (Genre Based Approach) ini merupakan pendekatan pembelajaran yang membantu siswa lebih kompeten berbahasa, mampu berkomunikasi melalui penguasaan keterampilan berbahasa di antaranya dengan kegiatan menyimak, berbicara, membaca, dan menulis.
Berikut ini adalah uraian Langkah-langkah kegiatan pembelajaran berbasis Genre/Teks (Roses dan Martin, 2012)
Langkah pertama, Membangun Konteks.
Tahap ini merupakan langkah-langkah awal yang dilakukan guru bersama siswa untuk mengarahkan pemikiran ke dalam pokok persoalan yang akan dibahas pada setiap pelajaran.
Contoh pembelajaran pada tahap membangun konteks untuk mata pelajaran Bahasa Inggris, yaitu guru menyiapkan contoh-contoh teks report terkait teknologi yang akan dibahas, misalnya Electric Torch, Fan Ceiling, USB Flash Drive atau yang lainnya. Contoh teks dapat berupa teks otentik, teks modifikasi, teks adaptasi, teks buatan guru sendiri, atau teks yang diberikan oleh para ahli pendekatan genre-based yang relevan.
Langkah kedua, Menelaah Model/Dekonstruksi teks.
Tahap ini berisi tentang pembahasan teks yang diberikan sebagai model pembelajaran. Pembahasan diarahkan pada semua aspek kebahasaan yang membentuk teks itu secara keseluruhan. Pada tahap ini dikembangkan kemampuan berpikir kritis siswa melalui kegiatan membahas serta menjawab pertanyaan-pertanyaan yang jawabannya tidak tertera dalam teks, seperti siapa penulisnya, kepada siapa pesan dalam teks ditujukan, di mana teks tersebut dapat ditemukan, dalam konteks apa teks itu dipakai, apakah setiap teks atau setiap pernyataan yang ada dalam teks relevan dengan kehidupan siswa, apakah setiap pernyataan yang ada dalam teks akan diterima oleh semua pembaca, apakah yang dikatakan dalam teks relevan dengan pengalaman siswa atau relevan dengan teks yang pernah dibaca sebelumnya oleh siswa terkait topik yang sama.
Langkah ketiga, Latihan Terbimbing (Joint construction)
Pada tahapan ini, siswa berlatih menggunakan semua hal yang telah
dipahaminya pada tahap sebelumnya. Siswa melewati tahap brainstorming, drafting, revising, editing, proofreading, dan publishing.
Langkah keempat, Unjuk Kerja Mandiri (Independent construction)
Pada tahapan ini, siswa diberi kesempatan untuk menulis secara mandiri, dengan bimbingan guru yang minimal, hanya kalau diperlukan. Setelah menulis teks secara mandiri, siswa juga dapat melakukan refleksi terkait apa yang telah ditulis atau yang dilakukan, atau apa yang telah dipelajari selama pembelajaran, dan saat membandingkan teks yang mereka tulis dengan teks yang ditulis oleh temannya. Siswa juga dapat menceritakan kembali apa yang telah ditulisnya di depan kelas.
Itulah tadi bagaimana Langkah-langkah Pembelajaran Berbasis Genre. Semoga bermanfaat.
Sumber : Model-model Pembelajaran,Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Atas,Direktorat Jendral Pendidikan Dasar dan Menengah,Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan,Tahun 2017
Postingan lainnya :
-
Dalam menerapkan prinsip-prinsip pembelajaran, pendidik diharapkan memperhatikan hal-hal sebagai berikut. a. Pembelajaran dirancang denga...
-
Pendekatan Pembelajaran Berbasis Genre (Genre Based Approach) ini merupakan pendekatan pembelajaran yang membantu siswa lebih kompeten berba...
-
Refleksi adalah proses memeriksa diri dan mengevaluasi diri yang dilakukan secara berkelanjutan oleh pendidik yang efektif, dengan tujuan m...











