Perlu disadari bahwa di dalam hidup selalu diliputi berbagai masalah baik masalah yang datang dari diri kita maupun dari luar kita. Memecahkan masalah (problem solving) yang ada, merupakan keputusan yang tepat untuk dapat hidup dengan lebih bermakna. Manakala sekolah dipandang sebagai laboratorium masyarakat, maka menjadi urgen siswa dilatih untuk mengenali permasalahan sampai dengan melakukan pemecahan atas permasalahanpermasalahan, terkait dengan tingkat perkembangan mental, jenjang pendidikan, serta matapelajaran atau bidang ilmu yang dipelajarinya.
Secara umum, pemecahan masalah didefinisikan sebagai suatu proses penghilangan perbedaan atau ketidaksesuaian yang terjadi antara hasil yang diperoleh dan hasil yang diinginkan (Pramana, 2006). Salah satu bagian dari proses pemecahan masalah adalah pengambilan keputusan (decision making), yang didefinisikan sebagai memilih solusi terbaik dari sejumlah alternatif yang tersedia (Pramana, 2006). Pengambilan keputusan yang tidak tepat, akan mempengaruhi kualitas hasil dari pemecahan masalah yang dilakukan. Masalah itu sendiri didefinisikan sebagai keadaan yang tidak sesuai dengan harapan yang kita inginkan.
Memecahkan masalah juga merupakan bentuk berpikir. Kemampuan untuk melakukan pemecahan masalah bukan saja terkait dengan ketepatan solusi yang diperoleh, melainkan kemampuan yang ditunjukkan sejak mengenali masalah, menemukan alternatif-alternatif solusi, memilih salah satu alternatif sebagai solusi, serta mengevaluasi jawaban yang telah diperoleh. Kemampuan problem solving dianggap fungsi intelektual yang paling kompleks (Peng, 2004). Sementara menurut Barrows (1992) kemampuan problem solving termasuk keterampilan berpikir dan menalar (thinking and reasoning skill), yang di dalamnya juga tercakup kemampuan metakognitif dan berpikir kritis. Ada banyak langkah pendekatan dari seseorang dalam memecahkan masalah, bergantung tingkat kesulitan masalah, namun urutannya adalah langkah-langkah kreatif yang biasa dilakukan dalam problem solving.
Menurut Ommundsen (2001), pemecahan masalah yang efektif memerlukan langkah pendekatan yang benar-benar terurut. Keterampilan memecahkan masalah bukan seperti keterampilan pesulap mengeluarkan merpati dari telapak tangan yang semula terlihat kosong, sebuah gerakan-gerakan tipu, melainkan kemampuan yang benar-benar logis dan empiris, yang sering memerlukan sejumlah waktu. Ommundsen mengusulkan langkah-langkah spesial, yang secara heuristic (jembatan keledai-nya) dikenal dengan DENT, ialah: Define, Explore, Narrow, Test, yang detailnya adalah:
a. Define the Problem Carefully (menemukenali problem dengan cermat)
b. Explore Possible Solutions (menemukan sebanyak mungkin alternatif solusi)
c. Narrow Your Choices (memilih salah satu alternatif solusi)
d. Test Your Solution (menguji solusi melalui pengumpulan data empiris).
Langkah-langkah yang lebih rinci dikemukakan oleh Peng (2004), ialah:
a. Menjelaskan deskripsi masalah
b. Menganalisis penyebab
c. Mengenali dan menemukan alternatif solusi
d. Menilai setiap alternatif solusi
e. Memilih salah satu alternatif solusi
f. Mencoba memecahkan masalah menggunakan cara terpilih
g. Menilai benarkan masalah telah benar-benar terpecahkan
Sementara menurut Pranata (2006), langkah-langkah pemecahan masalah secara analitis, adalah:
a. Menganalisis atau medefinisikan masalah
b. Membuat atau menemukan alternatif pemecahan masalah.
c. Mengevaluasi alternatif-alternatif pemecahan masalah
d. Menerapkan solusi dan rencana tindak lanjut.
Dengan latihan mengidentifikasi masalah dan memecahkannya ini, siswa terlatih untuk dapat menemukan keterampilan-keterampilan metakognisi atau keterampilan berpikir tingkat tinggi (Eggen & Kauchak, 1996; DeGallow, 1999).

Tidak ada komentar:
Posting Komentar