Sejarah panjang dunia pendidikan tentu mengalami pasang surut perkembangan teori-teori di dalamnya, baik teori-teori tentang pembelajaran, teori-teori mengenai penilaian serta teori-teori lain yang berkaitan erat dengan dunia pendidikan.
Salah satu yang tak luput dari sejarah perkembangan dunia pendidikan adalah penilaian.
Penilaian konvensional / penilaian cara kuno atau lama cenderung dilakukan hanya untuk mengukur hasil belajar peserta didik. Dalam konteks ini, penilaian diposisikan seolah-olah sebagai kegiatan yang terpisah dari proses pembelajaran. Dalam perkembangannya penilaian tidak hanya mengukur hasil belajar, namun yang lebih penting adalah bagaimana penilaian mampu meningkatkan kompetensi peserta didik dalam proses pembelajaran.
Bagaimana penilaian pada Kurikulum 2013 dilakukan ?
Mengingat betapa pentingnya penilaian dalam dunia pendidikan, maka oleh karena itu penilaian perlu dilaksanakan melalui tiga pendekatan, yaitu :
penilaian atas pembelajaran (assessment of learning),
penilaian untuk pembelajaran (assessment for learning), dan
penilaian sebagai pembelajaran (assessment as learning).
Penilaian atas pembelajaran dilakukan untuk mengukur capaian peserta didik terhadap kompetensi yang telah ditetapkan.
Penilaian untuk pembelajaran memungkinkan guru menggunakan informasi kondisi peserta didik untuk memperbaiki pembelajaran,
Sedangkan penilaian sebagai pembelajaran memungkinkan peserta didik melihat capaian dan kemajuan belajarnya untuk menentukan target belajar.
Perkembangan proporsi ketiga pendekatan penilaian diuraikan sebagai berikut :
Pada penilaian konvensional, assessment of learning paling dominan dibandingkan assessment for learning dan assesment as learning.
OF--FOR--AS
Penilaian dalam Kurikulum 2013 diharapkan sebaliknya, yaitu lebih mengutamakan assessment as learning dan assessment for learning dibandingkan assessment of learning.
AS--FOR--OF
Assessment of learning merupakan penilaian yang dilaksanakan setelah proses pembelajaran selesai. Penilaian ini dimaksudkan untuk mengetahui pencapaian hasil belajar setelah peserta didik selesai mengikuti proses pembelajaran. Berbagai bentuk penilaian sumatif seperti ulangan akhir semester, ujian sekolah, dan ujian nasional merupakan contoh assessment of learning.
Assessment for learning dilakukan selama proses pembelajaran berlangsung dan digunakan sebagai dasar untuk melakukan perbaikan proses pembelajaran. Dengan assessment for learning guru dapat memberikan umpan balik terhadap proses belajar peserta didik, memantau kemajuan, dan menentukan kemajuan belajarnya. Assessment for learning merupakan penilaian proses yang dapat dimanfaatkan oleh guru untuk meningkatkan kinerjanya dalam memfasilitasi peserta didik. Berbagai bentuk penilaian formatif, misalnya tugas-tugas di kelas, presentasi, dan kuis, merupakan contoh-contoh assessment for learning.
Assessment as learning mirip dengan assessment for learning, karena juga dilaksanakan selama proses pembelajaran berlangsung. Bedanya, assessment as learning melibatkan peserta didik secara aktif dalam kegiatan penilaian. Peserta didik diberi pengalaman untuk belajar menilai dirinya sendiri atau memberikan penilaian terhadap temannya secara jujur. Penilaian diri (self assessment) dan penilaian antar teman (peer assessment) merupakan contoh assessment as learnig.
Dalam assessment as learning peserta didik juga dapat dilibatkan dalam merumuskan prosedur penilaian, kriteria, maupun rubrik/pedoman penilaian sehingga mereka mengetahui dengan pasti apa yang harus dilakukan agar memperoleh capaian belajar yang maksimal.
Demikian uraian mengenai paradigma baru pendekatan dalam penilaian pada Kurikulum 2013.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar